Minggu, 24 Februari 2013

Coretan untuk Ilham

Diposkan oleh Ria Agustina di 12:42 AM 0 komentar

Cintaku itu buta, tak bisa liat siapa pun selain kamu.
Cintaku itu sederhana, tak membutuhkan alasan apapun untuk cintai kamu.
Cintaku itu hal terindah yang aku punya, karna ada kamu di dalamnya.
Cintaku terkadang egois, karena yang ingin kumiliki cuma kamu seutuhnya, tanpa menyadari ada yang lebih berhak atas kamu.

Cintaku tak pernah lelah menunggu, menunggu saat dimana kita dipersatukan kembali dengan janji suci.
Cintaku itu sabar, sabar saat mengetahui bagaimana kita dipisahkan dan bagaimana rasa sakitnya.
Cintaku itu ikhlas, setiap aku melakukan apapun yang aku mampu lakukan buatmu.
Harus kamu tau, cuma kamu lelaki yang dipilih oleh cintaku.
Aku tak pernah bohong atas cintaku.




Aku bertemu denganmu, mencintaimu, memilikimu dan kemudian kehilanganmu.
Aku masih melihatmu di sini, walau kamu ada di tempat yang tak bisa aku jangkau.
Aku memimpikanmu, aku menangis.
Aku mengingatmu, aku menangis.

Seperti orang bodoh, yah.. aku seperti orang bodoh.
Aku menunggumu datang, di teras rumahku. walau aku tau tak mungkin lagi kau muncul dihadapanku.
Aku menulis pesan singkat di ponselku untukmu, padahal aku tau ponselmu ada ditanganku.
Aku memanggil namamu berkali-kali hanya untuk membuat kamu mendengarku, walau aku tau kamu tak mendengarku lagi.
Aku merasakan sakitnya setiap waktu. Seperti ada sesuatu yang menyakitkan tertanam di dadaku dan setiap waktu bisa saja terasa semakin menyakitkan lalu membuat nafasku hanya setengah terhirup. 
Aku telungkup dan berguling menahan sakit di dadaku setiap waktu, aku melawan tangisku yang akan keluar, aku bertahan dengan kesendirianku, aku menunggu harapanku tercapai, aku menunggu kegembiraanku datang bersamamu, dan... aku terus mengharapmu, kau tak pernah tau.



Minggu, 03 Februari 2013

I have so much to say but you're so far away

Diposkan oleh Ria Agustina di 8:20 PM 0 komentar

         Aku nggak tau berapa banyak jam yang sanggup aku lewatin lagi dengan rasa sakit yang terasa menempel dan menggerogoti perasaanku. Karena aku di sini menghadapi dunia sendiri tanpa kamu lagi. Aku berjuang mewujudkan cita-cita kita berdua sendiri. Aku berusaha berdiri dengan meraih tangan orang-orang disekitarku walau seringkali jatuh lagi. Apa kamu tau gimana rasanya sayang? Tapi kalau kamu bahagia di sana, aku tenang karena kamu nggak lagi pakai oksigen, nggak lagi harus minum obat, nggak lagi harus ditusuk jarum suntik puluhan kali, nggak harus kemoterapi dan lainnya yang membuat kamu tersiksa selama ini. Walau aku di sini seperti ini, aku tetap berusaha kuat untuk kamu, orangtuaku dan orangtuamu.
         
         Aku nggak tau berapa banyak obat tidur yang udah aku telan. Cuma untuk membuat otak dan tubuhku beristirahat. Melupakan sejenak kesedihanku yang semakin memuncak, menghentikan air mataku yang terus mengalir. Sebenarnya, aku percaya bahwa Allah menjagamu di sana sayang. Aku ikhlas kamu berpulang ke kehidupan yang sesungguhnya. Tapi aku nggak bisa memungkiri kalau ada sesuatu yang sangat menyakitkan dan menyesakkan yang aku rasakan setiap waktu. Setiap aku inget kenangan kita, setiap aku inget pertunangan kita, setiap aku liat foto, video, tulisan tanganmu buatku, juga rekaman suaramu.

         Aku nggak tau berapa banyak air mata yang keluar dari mataku setiap aku inget kamu, inget kita. Kenapa rasanya kayak gini? Apa memang menyakitkan kayak gini setiap perpisahan? Sampai-sampai trauma yang aku rasain begitu menyiksa. Perasaan takut kehilangan orang disekelilingku selalu menghantui aku, apalagi kalau cahaya disekitarku redup dan bahkan mati, atau sewaktu aku sendiri dimanapun aku berada. Aku tidur tanpa menelan obat tidur pun nggak bakal bisa tenang dan normal seperti biasanya, seperti terkaget karena suatu hal yang nyatanya nggak ada apapun disekitarku.



         Setiap aku bangun tidur, aku berharap ini cuma mimpi buruk yang bakal berakhir saat aku bangun. Tapi saat aku bener-bener bangun, aku nggak lagi liat sms di ponselku dari kamu, aku nggak lagi liat chat di ponselku dari kamu dan aku nggak liat ada telpon atau pun miscall dari ponselmu, kayak biasanya. Lalu aku sadar, dan aku harus terima kalau ternyata kamu udah dikehidupan yang berbeda sama aku dan aku nggak bisa jangkau kamu pake apapun termasuk ponselmu yang kenyataannya ada di sebelah bantalku sekarang.

         Termasuk beberapa waktu lalu, sewaktu aku dirawat beberapa hari di RS karena aku sakit-sakitan. Setiap kali ada orang datang membuka pintu kamarku, aku berharap dan sangat berharap itu kamu yang datang merawat aku seperti saat aku ngerawat kamu. Bukan karena aku ingin balasan budi dari kamu, tapi karena aku ingin kamu ada lagi dihari-hariku.

         Kamu tau sayang, apa janjiku yang aku omongin ke diriku sendiri, beberapa hari sebelum acara pertunangan kita?
Aku janji ke diriku sendiri kalau aku bakal menjaga kamu, sampai kapanpun. Termasuk saat menjelang persiapan pernikahan kita, aku pengen kayak pasangan lain. Foto pre-wedding, beli cincin pernikahan bareng, pilih undangan bareng, fitting baju pengantin bareng, dll. Apapun keadaanmu saat itu, aku terima. Walau aku harus mendorong kursi rodamu kemanapun kita pergi. Aku nggak peduli orang lain ngomong apa dan mau ngapain.


         Tapi ternyata itu cuma angan-anganku. Allah mengambilmu lebih cepat sayang.
Maaf sayang atas semua air mataku. Aku ingin berhenti dan hanya mendoa kan kamu, tapi rasa sakit ini menang. Hampir setiap hari aku ke tempatmu beristirahat sekarang, aku ceritakan apa yang terjadi di hari-hari ku lalu aku berdoa di sana. Itu aku lakuin hanya untuk mengobati secuil perihnya sakitku.

Harus kamu tau, sampai kapanpun kamu tunanganku sayang.
Aku tunggu sampai pada saatnya kita bertemu lagi dan menikah di surga.

Dan terimakasih buat ibu dr. Amelia Pramono, MPsi. Yang telah merawat saya selama saya opname.
Ibu benar soal senyum ilham yang berubah menjadi suatu cahaya.
Sekarang cahayanya ada di hati dan setiap aliran darah saya.
 

Panda's Blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review